Dasar Pemikiran berdirinya Rumah Harapan Tapos

by - January 01, 2018


  • Bangsa Indonesia memiliki cita-cita luhur terhadap kondisi masyarakatnya, bahkan dalam UUD 1945 salah satu pasalnya menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara. Termasuk para anak yatim piatu tentunya. Namun kenyataannya Negara belum mampu mengemban salah satu amanat konstitusi tersebut secara menyeluruh.
  • Kenyataan sekarang ini, banyak anak yatim belum tersantuni. Anak yatim memang tersantuni bila perekonomian mereka diperhatikan . praktek umum yang dilakukan masyarakat memang menunjukkan bahwa memberikan uang, makanan, sarung, kopyah, dan sejenisnya adalah hal-hal yang lazim diterima anak yatim. Tetapi sebetulnya hal lain yang sering diabaikan adalah mengajari mereka tentang cara hidup. Membelikan es cendol bagi anak kecil hanya menghilangkan dahaganya sesaat. Namun mengajarinya tentang cara menghadapi sebuah kehidupan, secara jangka panjang akan memberikannya ilmu yang bermanfaat sepanjang hidup.
  • Pertanyaan mungkin muncul. Siapa yang paling bertanggung jawab untuk mendidik anak yatim ? keluarga terdekat barangkali jawaban yang pas. Tatkala sosok Muhammad SAW ditinggal bapaknya, Abdul Muthallib selaku kakek langsung mengasuhnya, selepas sang kakek meninggal pengasuhan Nabi Muhammad SAW pun seketika beralih ke tangan pamannya, ABU Thalib.
  • Akan tetapi bila melihat struktur komunitas di masa sekarang, yang paling bertanggung jawab tehadap eksistensi anak yatim sejatinya tidak hanya dibebankan pada kerabat dekat saja. Seluruh masyarakat sekitar pun harus bertanggung jawab terhadap kehidupan anak yatim. Kalau melihat teori social keluarga, dari semenjak zamannya Talcott Parsons and Robert Bales hingga masa postmodernisme ini, konsep dasar keluarga adalah sebagai institusi social yang menyatukan beberapa orang untuk saling peduli antar satu dengan yang lain. Keluarga, lengkap ataupun tidak lengkap jumlah anggotanya (termasuk anak yatim di dalamnya). Adalah sebuah institusi kecil yang menjadi bagian dari institusi besar yang namanya Negara. Tiap-tiap keluarga punya jaringan yang konkrit, bersosialisasi dan saling membutuhkan agar mampu menggerakkan institusi yang lebih besar seperti organisasi kemasyarakatan, masjid, universitas, dan pemerintahan. Konsekuensinya, masing-masing keluarga harus pula peduli terhadap keluarga yang lain.
  • Campur tangan Negara dalam upaya memberikan perhatian kepada anak yatim diberikan ruanggerak yang cukup luas melalui amanat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 bahwa “ FAKIR MISKIN DAN ANAK-ANAK TERLANTAR DIPELIHARA NEGARA”. Perlu kita sadari bahwa tidak semua manusia dilahirkan dalam kondisi beruntung. Di tengah masyarakat saat ini, pun tidak sedikit kaum yang kurang mampu yang tidak berdaya dalam menghadapi himpitan kehidupan. Kesempatan kaum kurang mampu untuk berusaha sangat terbatas, sehingga akses terhadap kehidupan dan pendidikan yang layakpun sulit mereka penuhi.
  • Terkait dengan hak anak yatim piatu, konvensi PBB tentang Hak-hak Anak menegaskan bahwa setiap anak mempunyai hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan, dan hak berpartisispasi dalam hal-hal yang menyangkut diri dan masa depannya. Selaras dengan itu, anak-anak yatim piatu mempunyai hak untuk mendapatkan pemeliharaan pendidikan serta perlindungan bagi kelangsungan hidupnya. Karenanya, bentuk santunan yang ideal adalah tidak terputus di tengah dan tidak terbatas kebutuhan konsumtif, tetapi juga pemberdayaan anak, yaitu melalui pendidikan.
  • Menilik kondisi di masyarakat, sebagian besar pemberi bantuan dan penyantun anak yatim piatu pada umumnya merasa telah cukup untuk menyerahkan bantuan financial kepada panti asuhan atau anak kurang mampu, tanpa menyumbangkan pemikiran untuk penggunaan dana tersebut bagi pemberdayaan anak. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya donator telah mempercayakan sepenuhnya pengelolaan dana tersebut kepada pihak pengasuh. Sedangkan dari pihak pengasuh, karena keterbatasan tenaga, pemikiran, dan kemampuan lainnya sering tidak berpikir tentang program yang menyangkut pemberdayaan anak, yang sangat dibutuhkan untuk masa depan mereka yaitu pendiidkan.
  • Factor lain yang menyebabkan kurangnya upaya pemberdayaan adalah adanya persepsi masyarakat tentang pengertian penyantunan anak yatim piatu yang terbatas pada pemberian dana untuk biaya hidup dan konsumsi. Melalui program YANG BERKELANJUTAN diharapkan bantuan anak kurang mampu khususnya yatim piatu, anak putus sekolah, dan anak terlantar bisa langsung menyentuh kebutuhan yang sangat mendasar termasuk kelangsungan pendidikannya.
  • Kita semua tentunya tidak mau disebut sebagai pendusta agama bukan ? sebagaimana sindiran Alloh SWT. “ Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ? itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong) dengan barang berguna.” (QS. 108:1-7)
  • Penjelasan singkat di atas telah menggugah kami dari Rumah Harapan Tapos untuk menjembatani peran social yang sangat penting ini. Karena tugas Negara teramat luas, kami mengambil peran sebagai partner pemerintah dalam mengemban misi dan ajaran-ajaran Islam untuk ikut membantu para anak-anak yatim piatu, anak-anak putus sekolah, dan anak-anak terlantar yang notabene mereka juga manusia yang berhak mendapatkan kehidupan yang layak.
  • Untuk itu memberikan kemudahan kepada mereka baik berupa akses informasi, pendidikan yang layak, tempat tinggal yang memadai dan menciptakan kemadirian mereka, kami berupaya untuk menjalankan ini dengan sebaik-baiknya, memanfaatkan berbagai sumber untuk keberhasilan menciptakan generasi masa depan yang lebih baik.

You May Also Like

0 comments